Saturday, February 22, 2014

Jalur Bersepeda Seru di Pulau Karimunjawa




Tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, Pulau Karimunjawa ternyata juga memiliki jalur sepeda yang mengasyikkan.

Coba saja Anda bergerak ke arah Utara atau sebelah kiri jika mau masuk ke tempat wisata Bukit Joko Tuo, atau lebih tepatnya ke arah bandara Dewandaru Karimunjawa.

Terus saja ikuti jalan besar, maka sepanjang lebih dari 22 km, jalur jalan aspal yang tidak sempurna (sedikit berlubang dan berpasir) dan alur jalan yang turun-naik, serta jalur pasir menuju pinggir pantai, membuat sensasi bersepeda Anda menyenangkan.

Atau Anda mau lebih ekstrem lagi? Coba turuni beberapa bukit yang memiliki jalur setapak, seperti bukit Samarinda yang saat ini sedang dalam pembangunan sebuah hotel. Alur turunnya cukup curam dan licin, dibutuhkan keahlian cukup baik untuk tidak jatuh.

Yang juga membuat perjalanan sepeda Anda mengesankan adalah, pemandangan alam yang mempesona dan juga sambutan penduduk yang hangat.

Bila mulai kehausan sepanjang perjalanan, dalam jarak yang tidak begitu jauh, cukup banyak warung pinggir jalan. Rekomendasi saya coba es dawetnya, murah cuma tiga ribu rupiah saja.

Satu lagi saran saya, meski ada penyewaan sepeda di Karimunjawa dengan harga berkisar 30 ribu - 35 ribu rupiah, namun kondisi sepedanya kurang terawat dengan baik. Lebih baik bawa sepeda sendiri agar lebih nyaman dan safety.

Sunday, February 16, 2014

Hati

Bartno Note




Dia sama dengan kita, manusia
Senyum dan ketawanya tak terlihat beda dengan kita

Marah dan perkataannya pun juga pernah kita lakukan
Namun dia bisa merubah lingkungan
Negatif ke positif, tertidur menjadi membangun

Bukan, bukan karena ia jago bicara atau pun pandai
Tapi ia bekerja dengan hati
Hati yang sama dengan yang kita miliki
Ya, kamu, dia, saya punya hati ini
Hati ini, hati ini!

Sunday, February 2, 2014

Gardu Pandang Setieng dan Candi Arjuna, Dieng



Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, Anda akan menemukan banyak tempat wisata, dua diantaranya yang paling awal akan dikunjungi adalah Gardu Pandang Setieng dan Komplek Candi Arjuna.

Biasanya bila menggunakan paket wisata ke Dieng, kunjungan ke dua tempat ini sudah termasuk. Namun bagi para backpacker, wajib nih ke sini.

View of Gardu Pandang Setieng

Gardu Pandang Setieng.
Menaiki gardu ini Anda bisa melihat pemandangan Kabupaten Wonosobo yang berlatar belakang Gunung Sindoro dan Sumbing.

Menghirup udara segarnya dan mengamati alamnya sudah cukup menenangkan. Pemandangan sunrise dan sunset dari sini juga cukup mengesankan.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna.
Posisinya yang didampingi ratusan pohon cemara dan dibentengi bukit. Karena memang letaknya berada di cekungan Dataran Tinggi Dieng, membuat Komplek Candi Arjuna ini tampak eksotis.

Sehingga dapat saya katakan ini adalah sebuah lokasi yang cocok untuk membuat cerita perjalanan Anda ke masa lalu bertambah cantik. Beberapa angle foto keren dapat Anda temui di sini.

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari lima candi; Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra, rata-rata candinya berusia lebih dari seribu tahun.

Sunday, January 5, 2014

Menikmati Malam Jakarta dari Masjid Terbesar se-Asia Tenggara

Yuk sejenak bernostalgia dengan Masjid Istiqlal yang menjadi masjid terbesar se-Asia Tenggara ini.



Terbuka untuk publik pertama kali pada 22 Februari 1978, Masjid Istiqlal menjadi landmark kota Jakarta dan bahkan Indonesia.

Masjid ini menjadi tempat rutin Presiden RI dan beberapa duta besar untuk melakukan perayaan hari besar Islam.

Tahukah Anda, masjid ini terlihat lebih indah di malam hari? Dan situasi malam Jakarta pun tampak menawan, dipandang dari tingkat empat masjid Istiqlal.

Saat malam, Istiqlal seperti dibalut emas lewat sinar lampu yang menyinari pilar-pilarnya.

Monas pun tampak anggun bersanding dengan menara Istiqlal atau Anda bisa melihat Monas mengawasi kereta api yang keluar-masuk Stasiun Gambir.

Menengok ke arah Gereja Katedral, pemandangannya tak kalah menawan. Lampu-lampu di ujung menaranya membuat cantik Katedral.



Melirik ke dalam, arsitektur Istiqlal tampak unik dipotret malam hari. Tak ketinggalan kami juga mengunjungi bedug raksasa sepanjang 3 meter dengan berat 2,3 ton dan berdiameter 2 meter. Bedug ini dibuat dari kayu meranti merah yang berusia 300 tahun.

Bro you should try your self to visit Istiqlal at night. Cukup sediakan saja uang parkir untuk kendaraan Anda.


Sunday, December 1, 2013

Disambut Ribuan Bintang di Pulau Sempu

Bartno note



Kereta Matarmaja sudah menunggu kami di Stasiun Senen. Tepat jam 14:00 kami berdua menepati janji untuk bersama menuju kota Malang, Jawa Timur.

Lebih kurang 17 jam kami saling mengenal, dan di Stasiun Kota Baru Malang kami berpisah dengan Matarmaja, untuk memulai cerita kami yang baru menuju Pulau Sempu (Segara Anakan).

Dua mobil jenis Elf kami sewa untuk menemani kami ke Pantai Sendang Biru, sebagai titik tolak kami nantinya menuju Pulau Sempu.

Kurang dari tiga jam, kini kami berada di Sendang Biru yang juga sudah diramaikan oleh para wisatawan lain.

Deretan perahu nelayan di sini memiliki dua fungsi. Menangkap ikan dan mengantarkan para wisatawan menuju Pulau Sempu.

Izin dan informasi dari petugas setempat dan penduduk, membuat kami siap untuk menempuh trek yang biasanya memakan waktu 2-3 jam saja.

Cuaca terlihat bersahabat, kami pun telah siap dengan carier kami masing-masing.

Selepas turun dari perahu, kami mengabadikan sejenak wajah-wajah semangat petualang yang sudah tidak sabar melihat secara langsung keindahan Pulau Sempu yang sebelumnya hanya melalui cerita, foto, dan video di dunia maya.

Baru sepertiga jalan, cuaca tiba-tiba berubah. Petir sekali-kali memekik memberi tahu akan segera turun hujan.

Iya tak lama setelah itu, buliran air seukuran bulir beras turun, dan semakin lama semakin banyak saja dan semakin cepat.

Langkah kami pun menjadi merambat. Tanah berubah menjadi lumpur dan licin. Karang tajam menyembul dari bawah dan akar-akar seperti tusuk gigi, juga mulai unjuk gigi.

Sandal kami pun menjadi korban. Ia tertangkap oleh para penguasa lumpur. Kaki kami kalah kuat kala adu tarik dengan mereka. Rusaklah alas kaki kami. Dan kami tak punya tameng lagi untuk menghidar dari karang tajam dan akar seperti tusuk gigi.

Meski sudah meraba-raba dan perlahan-lahan menjejak, tapi karang dan akar yang menang jumlah berhasil menusuk kaki-kaki kami. Aw,,aduh,, ahh,,, wadaw,,, ssss,, keluh kami setiap mereka berhasil mengenai kaki-kaki kami.

Sudah hampir lima jam belum juga Pulau Sempu terlihat, dan gelap semakin pekat. Rasa was-was mulai menyelimuti, Apakah kami akan berhasil?

Kami berhenti sejenak dan mulai bermunajat kepada sang Pemilik Alam Semesta. Alhamdulillah, kami bertemu pihak penjaga yang sedang mencari sepasang wisatawan yang tersesat. Bimbingan arah dari mereka, membantu kami sampai di tujuan dengan selamat. Dan doa kami untuk wisatawan yang lain agar juga mendapat keselamatan sampai sini.

Dalam keadaan lelah dan terluka. Kami mendirikan tenda untuk tempat bermalam. Setelahnya, kami membersihkan diri yang diselimuti lumpur di pantai kecil Pulau Sempu.

Masih rasa sakit di kaki kami terasa. Luka perang dengan akar dan karang belum terobati. Namun alangkah kagetnya kami, setelah hujan berhenti menyambut kami, kini ribuan bintang di angkasa mengatakan "selamat malam". Senyum dan haru kami yang tak pernah melihat begitu banyaknya bintang di angkasa membuncah. Sehingga menghilangkan semua rasa negatif kami, dan yang terpikirkan betapa indahnya tuan rumah kami "Pulau Sempu".

Tapi sayang, tak satupun kamera kami berhasil mengabadikan bintang-bintang indah tersebut. Karena itu mata-mata kami tak pernah mau berhenti menangkap momen ini. "Indahnya."

Pagi pun tiba, sinar mentari menampakan wajah asli Pulau Sempu. Pantai kecil berombak baik, air jernih tempat bermain ikan-ikan kecil, mengudang kami untuk merasakan keramah-tamahannya. Dan di atas bukit karang sana, pandangan luas Samudra Hindia menambah satu lagi kekaguman kami. Dan ini seperti dua sisi berbeda, Pulau Sempu yang dibentengi tebing cuma memberikan sedikit peluang ombak Samudra Hindia masuk melalui celah-celah dindingnya. Kami seperti dilindungi dari ganasnya ombak-ombak Samudra Hinda.

Selepas siang kami pun pulang. Dan dalam hati, Terima Kasih ya Tuhan telah Kau pertemukan kami dengan tuan rumah seindah ini.

Saturday, September 28, 2013

Beruntung di Museum Taman Prasasti

Bartno note:



Pilihan menikmati liburan di Jakarta segudang banyaknya. Tapi kami berempat ingin kembali menikmati saat Sekolah Dasar dulu, berkunjung ke museum, sekaligus mengasah insting fotografi kami.

Pilihan pun jatuh ke Museum Taman Prasasti yang terletak di Jl. Tanah Abang no.1 Jakarta Pusat. Karena berdasarkan rekomendasi banyak teman, seringnya fotografer berkunjung ke sini untuk membuat cerita mereka masing-masing.

Pada hari Sabtu di pertengahan Maret 2013, sekitar pukul 11 siang kami tiba di Museum ini.

Dengan tiket masuk yang cukup murah yakni Rp5.000, kami diberi waktu hingga pukul tiga sore nanti. Karena memang jadwal buka museum ini dari pukul 9 pagi hingga 3 sore. Senin dan hari libur nasional, Museum Taman Prasasti libur.

Yap, memang banyak spot asyik untuk mengasah skill fotografi. Dan di sini beruntungnya, pada hari yang sama kebetulan ada beberapa fotografer lain yang lebih profesional karena adanya model yang diikutsertakan.

Pas! Sowan lah kami untuk ikut serta menangkap gaya si model cantik itu. Dan lebih enaknya lagi, mereka pun mengijinkan kami untuk memberikan arahan gaya kepada modelnya.
Beruntung kan!

So guys, jika budget memang sedang mepet berkunjung saja ke sini. Selain spot yang asyik untuk memotret, Anda pun bisa melihat secara langsung puluhan patung bergaya Eropa, dan siapa tahu Anda pun seberuntung kami.

Oh iya, prasasti memperingati perjuangan Soe Hok Gie juga ada di sini.

Saturday, September 7, 2013

Pulau Pari Bersuara Tokek





Belum lama ini saya dan enam sahabat saya berlibur menuju Pulau Pari yang masuk dalam bagian Kepulauan Seribu.

Merujuk dari namanya kayanya sih bakalan melihat Ikan Pari.

Tapi nyatanya setelah sampai di sana tak ada Ikan Pari yang bisa dilihat atau pun disantap.

Yang ada hanya sebuah monumen Ikan Pari sebagai penunjuk Pulau Pari.

Malah binatang yang kami temui ada Kepiting, Kucing dan raja di saat malam 'Tokek.'

Bunyi Tokek di malam hari seperti senandung musik yang meliputi Ibu Kota.



Terlepas dari itu semua, Pulau Pari memang memiliki daya tarik wisata yang keren. Sebut saja Pantai Pasir Perawannya yang jernih dan indah. 

Sedikit bermain angle foto, maka banyak orang tak menyangka bahwa saya berwisata di wilayah Jakarta.






Kami berangkat dari Muara Angke dan berlibur di sana selama dua hari satu malam. Tanpa menggunakan paket travel, saya pribadi menghabiskan biaya sekitar 250 ribu rupiah saja. 

Tapi kami di sana tidak melakukan snorkling dan bersepeda. Cukup dengan berkano ria dan menjelajah pulau dengan jalan kaki, sudah sangat menyenangkan.

Saya sendiri masih belum puas di sana. I will go there again! 

Music

Berselancar